Senin, 13 Juli 2009

EVALUASI PENDIDIKAN

BAB 1 PENDAHULUAN

1. Pengertian pengukuran, penilaian, evaluasi.
  • Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran (Kuantitatif)
  • Menilai adalah mengmbil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk (Kualitatif).
  • Mengadakan evaluasi meliputi kedua langkah tersebut.
2. Penilaian pendidikan
  • Menurut Ralph Tyler (1950) evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana =, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan sudah tercapai.
  • Apabila sekolah diumpamakan sebagai tempat mengolah sesuatu (trnsformasi) dan calon siswa diumpamakan bahan mentah (input) maka lulusan adalah hasil olahan (output). Dari proses tersebut akan muncul umpan balik (feed back) yang berpengaruh kepada semua bagian.
3. Mengapa menilai?
  • Makna bagi siswa:
  1. Untuk dapat mengetahui apakah hasil belajarnya Memuaskan atau Tidak Memuaskan.
  • Makna bagi Guru:
  1. Dapat mengetahui, apakah siswa sudah menguasia materi apa belum.
  2. Dapat mengetahui apakah materi yang diajarkan sudah tepat.
  3. Dapat mengetahui apakah metode yang diterapkan sudah tepat tau belum.
  • Makna bagi Sekolah:
  1. Dapat mengetahui kondisi belajar yang diciptakan sekolah sudah sesuai dengan harapan atau belum.
  2. Dapat membantu perencanaan kurikulum selanjutnya
  3. Dapat sebagai pedoman bagi sekolah untuk kedepannya.

4. Tujuan atau fungsi Penilaian
  • Penilaian berfungsi selektif
  • Penilaian berfungsi diagnostic
  • Penilaian berfungsi Sebagai penempatan
  • Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan

5. Ciri-ciri Penilaian dalam pendidikan.
  • Penilaian dilakukan secara tidak langsung
  • Penggunaan ukuran kuantitatif
  • Penilaian pendidikan menggunakan, unit-unit atau satuan yang tetap.
  • Bersifat relative
  • Penilaian pendidikan seing terjadi kesalahan, baik dari alat ukurnya, orang yang melakukan penilaian, anak yang dinilai dan situasi dimana penilaian itu berlngsung.
BAB 2 SUBJEK DAN SASARAN EVALUASI

Subjek evaluasi

Subjek evaluasi adalah orang yang melakukan pekerjaan evaluasi (ex. Guru).

Sasaran evaluasi

Objek atau sasaran evaluasi adalah segala sesuatu yang menjadi titik pusat pengamatan.

BAB 3 PRINSIP DAN ALAT EVALUASI

Prinsip evaluasi

Ada satu prinsip umum dan penting dalam kegiatan evaluasi, yaitu adanya triangulasi atau hubungan erat tiga komponen, yaitu antara:
  1. Tujuan pembelajaran,
  2. KBM
  3. evaluasi
  4. Alat evaluasi
Teknik non-tes
  • Skala bertingkat
  • Kuesioner
  • Daftar cocok
  • Wawancara
  • Pengamatan
  • Riwayat hidup
Teknik tes
  • Tes diagnostis
  • Tes formatif
  • Tes sumatif
BAB 4 MASALAH TES

PENGERTIAN

Test merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan.

PERSYARTAN TES

Sumber persyaratan tes yaitu,
Menyangkut mutu test
Menyangkut pengadministrsian dalam pelaksanaan.

CIRI-CIRI TEST yang baik

Test yang baik harus memenuhi persyaratan test yaitu,
  • Validitas
  • Reliabilitas
  • Objektivitas

BAB 5 VALIDITAS

Macam-macam Validitas

Validitas Logis dapat dicapai apabila instrument disusun mengikuti ketentuan yang ada. Validitas logis tidak perlu diuji kondisinya tetapi langsung diperoleh setelah instrument tersebut disusun.

Validitas Logis ada dua macam, yaitu :

  • Validitas Isi (contenst validity) : Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan.

  • Validitas Konstrak / Konstrussi (construct validity) : Sebuah tes dikatakan memilki validitas konstruksi apabila butir-butir soal yang membangun tes tersebut mengukur setiap aspek-aspek berpikir seperti yang disebutkan dalam instruksional khusus.
Validitas Empiris tidak dapat diperoleh hanya dengan menyusun instrument berdasarkan ketentuan seperti halnya validasi logis, tetapi harus dibuktikan melalui pengalaman.
Validitas Empiris dibagi dua, yaitu :

  • Validitas “ada sekarang” (concurrent validity): Sebuah tes dikatakan memiliki validitas empiris jika hasilnya sesuai dengan pengalaman. Pengalaman selalu mengenai hal yang telah lampau sehingga data pengalaman tersebut sekarang sudah ada (ada sekarang, concurrent).
  • Validitas Prediksi (predictive validity): Sebuah tes dikatakan memiliki validitas prediksi apabila mempunyai kemampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.

Cara mengetahui Validitas Alat Ukur
Teknik yang digunakan untuk mengetahui kesejajaran adalah teknik korelasi product moment yang dikemikakan oleh Pearson.
Rumus korelasi product moment ada dua macam, yaitu :
Korelasi product moment dengan simpangan
Rumus ; r xy = (∑ xy)/√((∑ x2) (∑ y2)) keterangan r xy = koefisien korelasi variabel
∑ xy = jumlah perkalian X dg Y
X2 = kuadrat dari X
Y2 = kuadrat dari Y
Korelasi product moment dengan angka
Rumus ; r xy = (N∑XY – (∑X) (∑Y))/√({N∑X2-(∑X)2} {N∑Y2-(∑Y)2)



Validitas Butir Soal atau Validitas Item
Pengertian umum untuk validitas item adalah demikian sebuah item dikatakan valid apabila mempunyai dukungan yang besar terhadap skor total. Skor pada item menyebabkan skor total menjadi tinggi atau rendah.
Untuk menghitung validitas item menggunakan rumus γpbi yang rumus lengkapnya adalah : γpbi = (Mp-Mt)/St √P/Q ket: γpbi = koefisien korelasi biserial
Mp = rerata skor dari subjek yang menjawab betul bagi item yang dicari
Mt = rerata skor total
St = standar deviasi dari skor total
P = proposisi siswa yang menjawab benar ( p = (banyaknya siswa yg benar)/(jumlah seluruh siswa) )
Q = proposisi siswa yang menjawab salah ( q = 1 – p )

Tes terstandar sebagai Kriterium dalam menentukan Validitas

Tes terstandar adalah tes yang telah dicobakan berkali-kali sehingga dapat dijamin kebaikannya. Cara menentukan validitas soal yang menggunakan koefisien validitas yang diperoleh dengan koefisien validitas tes terstandar tersebut.

Validitas faktor

Selain validitas soal secara keseluruhan dan validitas butir atau item, masih ada lagi yang perlu diketahui validitasnya, yaitu factor-faktor atau bagian keseluruhan materi. Butir-butir soal factor dikatakan valid apabila menunjukkanskor dengan skor total. Cara mengetahuikesejajaran tersebut digunakan juga rumus korelasi product moment.

BAB 6 RELIABILITAS

Arti Reliabilitas bagi sebuah tes
Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Maka pegertian reliabilitas tes, berhubungan dengan ketetapan hasil tes. Atau seandainya hasilya berubah-ubah, perubahan yang terjadi dapat dikatakan tidak berarti.
Scarvia B. Anderson dan kawan-kawan menyatakan bahwa peryaratan bagi tes, yaitu validitas dan reabilitas ini penting. Dalam hal ini validitas lebih penting, dan reliabilias ini perlu, karena menyokong terbentuknya validitas.
Secara garis besar hal yang sedikit banyak mempengaruhi hasil tes dikelompokkan menjadi 3, yaitu :
  • Hal yang berhubungan dengan tes itu sendiri, yaitu panjang tes dan kualitas butir- butir soalnya
  • Hal yang berhubungan dengan tercoba (testee)
  • Hal yang berhubungan dengan penyelenggaraan tes

Cara-cara mencari besarnya reliabilitas.

  • Metode bentuk parallel (equivalent)
Tes paralel adalah dua buah tes yang mempunyai kesamaan tujuan, tingkat kesukaran, dan susunan, tetapi butir-butir soalnya berbeda. Dalam menggunakan metode ini pengetes harus menyiapkan dua buah tes, dan masing-masing dicobakan pada kelompok siswa yang sama. Kelemahan dari metode ini adalah bahwa pengetes pekerjaannya berat karena harus menyusun dua seri tes.
  • Metode tes ulang (tes-retest method)
Metode tes ulang dilakukan orang untuk penyusunan dua seri tes. Dalam menggunakan metode ini pengetes hanya memiliki satu seri tes, tetapi dicobakan dua kali.
Metode belah dua (split-half method)
Kelemahan metode bentuk parallel dan metode tes ulang dapat diatasi denga metode ini. Dalam menggunakan metode ini pengetes hanya menggunakan sebuah tes dan dicobakan satu kali.
Rumus yang digunakan adalah rumus Spearman-Brown :
r11 = 2 r½½ r½½ = korelasi antara skor /belahan
(1 + r½½) r11 = koefisien reabilitas sesuai

Taksonomi

Tujuan pendidikan dirumuskan pada tiga tingkatan pertama, tujuan pendidikan. Tujuan ini menunjukan perlu tidaknya suatu program diadakan. Kedua, tujauan yang didasarkan atas tingkah laku. Ketiga, tujuan yang lebih jelas yang dirumuskan secara operasional.
Beberapa ahli telah mencoba memberikan cara bagaimana menyebut ketiga tujuan ini, yang akhirnya oleh Viviane De Landsheere disimpulkan bahwa ada tiga tingkat tujauan yaitu ;
Tujuan akhir dan tujuan umum pendidikan.
Taksonomi
Tujuan yang operasional
Prinsip-prinsip dasar yang digunakan oleh Bloom dan Krathwool ada empat buah yaitu ; a. Prinsip metodologis
Prinsip Psikologis
Prinsip logis
Prinsip tujuan
Secara garis besar Bloom bersama kawan-kawan merumuskan tujuan-tujuan pendidikan pada tiga tingkatan ;
  • Kategori tingkah laku yang masih verbal
  • Perluasan kategori menjadi sederet tujuan
  • Tingkah laku kongkret yang terdiri dari tugas-tugas dalam pertanyaan-pertanyaan sebagai ujian dan butir-butir soal
Ada tiga ranah atau domain besar yang terletak pada ingkatan kedua yang selanjutnya disebut taksonomi yaitu;
  • Ranah kognitif (kognitif domain), meliputi; Mengenal (recognition), Pemahaman (comprehension), Penerapan atau aplikasi (application), Analisis (analysis), Sintesis (synthesis), Evaluasi (evaluation)
  • Ranah afektif (afektif domain)
  • Ranah psikomotorik (psikomotor domain): ranah psikomotorik berhubungan erat dengan kerja otot sehingga menyebabkan geraknya tubuh atau bagian-bagiannya.
Taksonomi untuk ranah psimotorik antara lain dikemukakan oleh Anita Harrow (1972). Menurut Harrow kebanyakan para guru tidak dapat menuntut pencapaian 100 dari tujuan yang dirumuskan kecuali hanya berharap bahwa keterampilan yang dicapai oleh siswa-siswanya akan sangat mendukung mempelajari keterampilan lanjutan atau gerakan-gerakan yang lebih kompleks.
Beberapa kritik telah dilemparkan kepada Bloom cs. Tentang pembagian taksonomi ini, sehingga timbul teori-teori baru antara lain :
Mc Guire dan Klickman (1963) telah menyusun taksonomi untuk bidang Biologi, Wood (1968) untuk Matematika, Leuis (1965) untuk Ilmu Pengetahuan Alam.
Guilford menciptakan pola yang menggambarkan struktur intelek dalam bentuk kubus. Dikatakannya bahwa untuk melatih kemampuan intelek tertentu, dibutuhkan latihan tertentu pula.
Gagne dan Merrill juga mengemukakan taksonomi lain. Gagne (1965) menyebutkan adanya 8 kategori, yang oleh Merrill (1971) ditambah 2 kategori lagi, yaitu signal learning, stimulus-respon learning, chaining, verbal association, discrimination learning, concept learning, rule learning, problem solving.
Garlach dan Sullivan beranggapan bahwa taksonomi Bloom mempunyai kegunaan yang tebatas senagai alat untuk perencanaan dan pengembangan kurikulum.
De Block mengatakan bahwa taksonomi Bloom diilhami oleh masalah evaluasi. Jika Gagne dan Merrill bertitik tolak pada kondisi belajar maka De Block (1972) mengemukakan model yang didasarkan pada tujuan mengajar.

0 komentar:

Poskan Komentar