Sensor adalah suatu alat yang fungsinya untuk mendeteksi gejala (Thermis, Mekanis, Kimiawi, Sinyal listrik)
Tranduser adalah alat yang berfungsi mentranmisikan/menyalurkan gejala-gejala (dari sensor) yang timbul dari energi satu ke energi yang lain.
Sensor dan Tranduser
EVALUASI PENDIDIKAN
BAB 1 PENDAHULUAN
1. Pengertian pengukuran, penilaian, evaluasi.
- Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran (Kuantitatif)
- Menilai adalah mengmbil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk (Kualitatif).
- Mengadakan evaluasi meliputi kedua langkah tersebut.
- Menurut Ralph Tyler (1950) evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana =, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan sudah tercapai.
- Apabila sekolah diumpamakan sebagai tempat mengolah sesuatu (trnsformasi) dan calon siswa diumpamakan bahan mentah (input) maka lulusan adalah hasil olahan (output). Dari proses tersebut akan muncul umpan balik (feed back) yang berpengaruh kepada semua bagian.
- Makna bagi siswa:
- Untuk dapat mengetahui apakah hasil belajarnya Memuaskan atau Tidak Memuaskan.
- Makna bagi Guru:
- Dapat mengetahui, apakah siswa sudah menguasia materi apa belum.
- Dapat mengetahui apakah materi yang diajarkan sudah tepat.
- Dapat mengetahui apakah metode yang diterapkan sudah tepat tau belum.
- Makna bagi Sekolah:
- Dapat mengetahui kondisi belajar yang diciptakan sekolah sudah sesuai dengan harapan atau belum.
- Dapat membantu perencanaan kurikulum selanjutnya
- Dapat sebagai pedoman bagi sekolah untuk kedepannya.
4. Tujuan atau fungsi Penilaian
- Penilaian berfungsi selektif
- Penilaian berfungsi diagnostic
- Penilaian berfungsi Sebagai penempatan
- Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan
5. Ciri-ciri Penilaian dalam pendidikan.
- Penilaian dilakukan secara tidak langsung
- Penggunaan ukuran kuantitatif
- Penilaian pendidikan menggunakan, unit-unit atau satuan yang tetap.
- Bersifat relative
- Penilaian pendidikan seing terjadi kesalahan, baik dari alat ukurnya, orang yang melakukan penilaian, anak yang dinilai dan situasi dimana penilaian itu berlngsung.
Subjek evaluasi
Subjek evaluasi adalah orang yang melakukan pekerjaan evaluasi (ex. Guru).
Sasaran evaluasi
Objek atau sasaran evaluasi adalah segala sesuatu yang menjadi titik pusat pengamatan.
BAB 3 PRINSIP DAN ALAT EVALUASI
Prinsip evaluasi
Ada satu prinsip umum dan penting dalam kegiatan evaluasi, yaitu adanya triangulasi atau hubungan erat tiga komponen, yaitu antara:
- Tujuan pembelajaran,
- KBM
- evaluasi
- Alat evaluasi
- Skala bertingkat
- Kuesioner
- Daftar cocok
- Wawancara
- Pengamatan
- Riwayat hidup
- Tes diagnostis
- Tes formatif
- Tes sumatif
PENGERTIAN
Test merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan.
PERSYARTAN TES
Sumber persyaratan tes yaitu,
Menyangkut mutu test
Menyangkut pengadministrsian dalam pelaksanaan.
CIRI-CIRI TEST yang baik
Test yang baik harus memenuhi persyaratan test yaitu,
- Validitas
- Reliabilitas
- Objektivitas
BAB 5 VALIDITAS
Macam-macam Validitas
Validitas Logis dapat dicapai apabila instrument disusun mengikuti ketentuan yang ada. Validitas logis tidak perlu diuji kondisinya tetapi langsung diperoleh setelah instrument tersebut disusun.
Validitas Logis ada dua macam, yaitu :
- Validitas Isi (contenst validity) : Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan.
- Validitas Konstrak / Konstrussi (construct validity) : Sebuah tes dikatakan memilki validitas konstruksi apabila butir-butir soal yang membangun tes tersebut mengukur setiap aspek-aspek berpikir seperti yang disebutkan dalam instruksional khusus.
Validitas Empiris dibagi dua, yaitu :
- Validitas “ada sekarang” (concurrent validity): Sebuah tes dikatakan memiliki validitas empiris jika hasilnya sesuai dengan pengalaman. Pengalaman selalu mengenai hal yang telah lampau sehingga data pengalaman tersebut sekarang sudah ada (ada sekarang, concurrent).
- Validitas Prediksi (predictive validity): Sebuah tes dikatakan memiliki validitas prediksi apabila mempunyai kemampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.
Cara mengetahui Validitas Alat Ukur
Teknik yang digunakan untuk mengetahui kesejajaran adalah teknik korelasi product moment yang dikemikakan oleh Pearson.
Rumus korelasi product moment ada dua macam, yaitu :
Korelasi product moment dengan simpangan
Rumus ; r xy = (∑ xy)/√((∑ x2) (∑ y2)) keterangan r xy = koefisien korelasi variabel
∑ xy = jumlah perkalian X dg Y
X2 = kuadrat dari X
Y2 = kuadrat dari Y
Korelasi product moment dengan angka
Rumus ; r xy = (N∑XY – (∑X) (∑Y))/√({N∑X2-(∑X)2} {N∑Y2-(∑Y)2)
Validitas Butir Soal atau Validitas Item
Pengertian umum untuk validitas item adalah demikian sebuah item dikatakan valid apabila mempunyai dukungan yang besar terhadap skor total. Skor pada item menyebabkan skor total menjadi tinggi atau rendah.
Untuk menghitung validitas item menggunakan rumus γpbi yang rumus lengkapnya adalah : γpbi = (Mp-Mt)/St √P/Q ket: γpbi = koefisien korelasi biserial
Mp = rerata skor dari subjek yang menjawab betul bagi item yang dicari
Mt = rerata skor total
St = standar deviasi dari skor total
P = proposisi siswa yang menjawab benar ( p = (banyaknya siswa yg benar)/(jumlah seluruh siswa) )
Q = proposisi siswa yang menjawab salah ( q = 1 – p )
Tes terstandar sebagai Kriterium dalam menentukan Validitas
Tes terstandar adalah tes yang telah dicobakan berkali-kali sehingga dapat dijamin kebaikannya. Cara menentukan validitas soal yang menggunakan koefisien validitas yang diperoleh dengan koefisien validitas tes terstandar tersebut.
Validitas faktor
Selain validitas soal secara keseluruhan dan validitas butir atau item, masih ada lagi yang perlu diketahui validitasnya, yaitu factor-faktor atau bagian keseluruhan materi. Butir-butir soal factor dikatakan valid apabila menunjukkanskor dengan skor total. Cara mengetahuikesejajaran tersebut digunakan juga rumus korelasi product moment.
BAB 6 RELIABILITAS
Arti Reliabilitas bagi sebuah tes
Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Maka pegertian reliabilitas tes, berhubungan dengan ketetapan hasil tes. Atau seandainya hasilya berubah-ubah, perubahan yang terjadi dapat dikatakan tidak berarti.
Scarvia B. Anderson dan kawan-kawan menyatakan bahwa peryaratan bagi tes, yaitu validitas dan reabilitas ini penting. Dalam hal ini validitas lebih penting, dan reliabilias ini perlu, karena menyokong terbentuknya validitas.
Secara garis besar hal yang sedikit banyak mempengaruhi hasil tes dikelompokkan menjadi 3, yaitu :
- Hal yang berhubungan dengan tes itu sendiri, yaitu panjang tes dan kualitas butir- butir soalnya
- Hal yang berhubungan dengan tercoba (testee)
- Hal yang berhubungan dengan penyelenggaraan tes
Cara-cara mencari besarnya reliabilitas.
- Metode bentuk parallel (equivalent)
- Metode tes ulang (tes-retest method)
Metode belah dua (split-half method)
Kelemahan metode bentuk parallel dan metode tes ulang dapat diatasi denga metode ini. Dalam menggunakan metode ini pengetes hanya menggunakan sebuah tes dan dicobakan satu kali.
Rumus yang digunakan adalah rumus Spearman-Brown :
r11 = 2 r½½ r½½ = korelasi antara skor /belahan
(1 + r½½) r11 = koefisien reabilitas sesuai
Tujuan pendidikan dirumuskan pada tiga tingkatan pertama, tujuan pendidikan. Tujuan ini menunjukan perlu tidaknya suatu program diadakan. Kedua, tujauan yang didasarkan atas tingkah laku. Ketiga, tujuan yang lebih jelas yang dirumuskan secara operasional.
Beberapa ahli telah mencoba memberikan cara bagaimana menyebut ketiga tujuan ini, yang akhirnya oleh Viviane De Landsheere disimpulkan bahwa ada tiga tingkat tujauan yaitu ;
Tujuan akhir dan tujuan umum pendidikan.
Taksonomi
Tujuan yang operasional
Prinsip-prinsip dasar yang digunakan oleh Bloom dan Krathwool ada empat buah yaitu ; a. Prinsip metodologis
Prinsip Psikologis
Prinsip logis
Prinsip tujuan
Secara garis besar Bloom bersama kawan-kawan merumuskan tujuan-tujuan pendidikan pada tiga tingkatan ;
- Kategori tingkah laku yang masih verbal
- Perluasan kategori menjadi sederet tujuan
- Tingkah laku kongkret yang terdiri dari tugas-tugas dalam pertanyaan-pertanyaan sebagai ujian dan butir-butir soal
- Ranah kognitif (kognitif domain), meliputi; Mengenal (recognition), Pemahaman (comprehension), Penerapan atau aplikasi (application), Analisis (analysis), Sintesis (synthesis), Evaluasi (evaluation)
- Ranah afektif (afektif domain)
- Ranah psikomotorik (psikomotor domain): ranah psikomotorik berhubungan erat dengan kerja otot sehingga menyebabkan geraknya tubuh atau bagian-bagiannya.
Beberapa kritik telah dilemparkan kepada Bloom cs. Tentang pembagian taksonomi ini, sehingga timbul teori-teori baru antara lain :
Mc Guire dan Klickman (1963) telah menyusun taksonomi untuk bidang Biologi, Wood (1968) untuk Matematika, Leuis (1965) untuk Ilmu Pengetahuan Alam.
Guilford menciptakan pola yang menggambarkan struktur intelek dalam bentuk kubus. Dikatakannya bahwa untuk melatih kemampuan intelek tertentu, dibutuhkan latihan tertentu pula.
Gagne dan Merrill juga mengemukakan taksonomi lain. Gagne (1965) menyebutkan adanya 8 kategori, yang oleh Merrill (1971) ditambah 2 kategori lagi, yaitu signal learning, stimulus-respon learning, chaining, verbal association, discrimination learning, concept learning, rule learning, problem solving.
Garlach dan Sullivan beranggapan bahwa taksonomi Bloom mempunyai kegunaan yang tebatas senagai alat untuk perencanaan dan pengembangan kurikulum.
De Block mengatakan bahwa taksonomi Bloom diilhami oleh masalah evaluasi. Jika Gagne dan Merrill bertitik tolak pada kondisi belajar maka De Block (1972) mengemukakan model yang didasarkan pada tujuan mengajar.
PSIKOLOGI BELAJAR
BAB 1. KONSEP BELAJAR DAN GURU SEBAGAI PEMBELAJAR
A. Pengertian Belajar
B. Unsur- Unsur Belajar
C. Hasil Belajar
D. Faktor- faktor yang Mempengarui Belajar
E. Menjadi Guru Profesional
BAB 2. TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK
A. Pandangan tentang belajar
B. Tori-teori belajar
1. Classical conditioning: Pavlov
2. Koneksionisme: Thorndike
3. Operant conditioning: Skinner
4. Conditioning: Gutgrie
5. Modeling dan Observationl Learning: Bandura
6. Modifikasi Perilaku Kognitif: Meichenbaum.
C. Prinsip-prinsip Belajar
1. Peranan penguatan dan Hukuman
2. Kesegeraan Pemberian Penguatan
3. Jadwal pemberian penguatan
4. Peranan stimulus yang mendahului respon
5. Peranan stimulus terhadap prilaku
BAB 3. TEORI BELAJAR KOGNITIF
A. Pandangan tentang Belajar
Psikologi kognitif menyatakan bahwa perilaku manusia tidak ditentukan oleh stimulus yang berada di luar dirinya, melainkan oleh faktor dari dirinya sendiri.
B. Teori Belajar tentang Informasi
1. Penampungan Kesan- kesan Penginderaan Jangka Pendek (STSS)
2. Memory Jangka Pendek (STM) dan Memory Kerja (WM)
3. Memory Jangka Panjang (LTM
C. Lupa dan Ingat
D. Teori Belajar Konstruktivisme
BAB 4. TEORI NEO BEHAVIORISTIK
Gagne (1977: 3) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan kecakapan atau disposisi pembelajar yang berlangsung dalam periode waktu tertentu, dan yang tidak dapat dianggap berasal dari proses pertumbuhan.
Mikroprosesor
1. Model Mikroproseor
Mikroprosesor merupakan suatu kotak (black box), dengan : sejumlah saluran data (data bus), saluran alamat (address bus), dan sejumlah saluran kontrol (control bus), catu daya.

![]()
![]()
![]()
address bus data bus
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
kontro bua
![]()
![]()
Power Supply
Gambar 2 Model Mikroprosesor
2. Mikroprosesor Ideal
Mikroprosesor adalah komponen programabel yaitu suatu komponen yang fungsinya dapat diprogram, artinya fungsi komponen programabel tergantung dari “ propram” yang diberikan.
Data diterima dari saluran masuk kemudian diproses (diolah) sesuai dengan program yang tersimpan (stored program) sehingga diperoleh sejumlah data keluaran sebagai hasil pengolahan data tersebut. Secara metematis, fungsi mikroprosesor dapat ditulis sebagai :
Keluaran = Masukkan * Program
Mikroprosesor ideal mempunyai m data saluran masuk (input) dan k saluran data keluaran (ouput) yang jumlahnya tidak terbatas.
1 1 2 2 Program m k ![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
Saluran masuk Saluran keluar
![]()
![]()
Gambar 3 Blok Diagram Mikroprosesor Ideal
3. Komponen Mikroprosesor
Berbeda dengan keadaan ideal, komponen utama mikroprosesor, seperti saluran data masuk dan saluran data keluar jumlahnya terbatas. Umumya m saluran data masuk sama dengan k saluran data keluar jumlahnya sama. Jumlah saluran data tersebut dinamakan “lebar jalur data” (data path width = word size).
Pada Gambar 4 diperlihatkan suatu mikroprosesor dengan 8 buah saluran data masuk dan 8 buah saluran data keluar. Bila jumlah m = k = 8, dikatakan mikroprosesor 8 bit, bilamana m = k = 4 dikatakan mikroprosesor 4 bit. “Data Word “ 8 bit disebut “byte”; “Data Word” 4 bit disebut “nybble”.
0 1 1 2 Program 7 k 0 1 1 2 Program 7 k
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
8 8
![]()
![]()
Gambar 4 Blok Diagram Mikroprosesor
Dengan 8 Saluran Data Masuk dan 8 Saluran Data Keluar
4. Hubungan Mikroprosesor dan Memori Eksternal
Suatu memori ideal dianggap mempunyai “memori dalam” (“Internal Memory”) dengan jumlah tidak terbatas, dalam keadaan yang sebenarnya mikroprosesor mempunyai jumlah “memori dalam” yang sangat terbatas untuk keperluan menyimpan data dan program. Dengan demikian mikroprosesor harus mampu untuk mencapai (to access) suatu memori luar (external memory).
Umumnya mikroprosesor harus dapat melakukan penyimpanan informasi (melakukan proses penulisan memori) dan mengambil informasi (melakukan proses pembacaan memori) dari memori luar.
Hubungan mikroprosesor melalui bus data dan bus alamat seperti Gambar 5.
Memori 1 2 3 Mikroprosesor p
Saluran Alamat
![]()
![]()
![]()
![]()
n
![]()
![]()
Saluran data/Alamat
Gambar 5 Hubungan Mikroprosesor dan Memori Luar
Dengan Bus Data dan Bus Alamat
5. Perkembangan Mikroprosesor
Perkembangan mikroprosesor ditandai dengan meningkatnya jumlah bit saluran data. Dimulai dengan 4 bit, sampai saat ini sudah 64 bit. Perbedaan jumlah bit saluran data menyebabkan perbedaan kecepatan akses data suatu sistem mikroprosesor. Dengan clock yang sama mikroprosesor 64 bit mempunyai kecepatan akses 16 kali lipat mikroprosesor 4 bit.
6. Teknologi Mikroprosesor
Jenis-jenis teknologi mirkoprosesor : PMOS (Metal Oxide Semoconductor kanal P), NMOS( MOS kanal N), CMOS (Complentay MOS), CMOS-SOS (CMOS Silicon-On-Sapphire), Bipoler ECL (Emiter Couple Logic), Bipolar Schottky, Bipolar I2L (Integrated Injection Logic).
Teknologi PMOS teknologi yang paling murah dan yang dipergunakan untuk mikroprosesor pertama intel 4004 (th. 1971), namun demikian pada tahun 1986 telah diganti dengan teknologi NMOS. Mikroprosesor sekarang menggunakan teknologi apa ?.
Pembagian Teknologi dan Contoh Mikroprosesor
| Jenis Teknologi | Contoh Mikroprosesor |
| Teknologi MOS NMOS CMOS | Intel 4004, 4040, 8008, 8080, 8085, 8048, 8749 motorola 6800, 6802, 6809, 6801, 6805 Zilog Z-80, Z 8000 Nasional seminductor NS 32032 Motorola 146805, 14500 Intersil 80C41, 87C48 |
| Teknologi Bipolar Bipolar Tak Jenuh - ECL - Schottky Bipolar Jenuh - IIL | (‘unsaturated’) Motorola 10800 Intel 3001 Advance Micro Devices Am 2901, 2903 (‘Saturated’) ABP 0400, SBP 990 |






